Cara Mudah Menyikapi Keraguan Menulis

Pernahkah Anda merasa ragu-ragu untuk menulis?

Pertanyaan itu tidak perlu di jawab, karena sifat keragu-raguan itu manusiawi. Siapapun pernah mengalami keragu-raguan, termasuk keraguan untuk menulis.

Tetapi Anda tidak perlu khawatir. Tidak usah diratapi karena sifat ragu-ragu itu bukan penyakit berbahaya. Ragu-ragu hanyalah perasaan jiwa, yang akan hilang dengan sendirinya, manakala penyebabnya diketahui.

Sikapi keraguan dengan bijak. Jangan  terjebak pada sikap berdiam diri. Keraguan dapat memicu timbulnya berbagai masalah, antara lain berkembangnya perasaan tidak aman, menurunnya harga diri, depresi, frustrasi, dan putus asa, dapat dipicu oleh keraguan.

Ingatlah, semua orang pernah merasakan sifat keraguan. Itu normal, meskipun obyek yang menjadi penyebab keraguan tiap individu berbeda-beda.

Hal yang tidak boleh dilakukan ketika kita merasa ragu-ragu, menyikapinya secara berlebihan.

Sikapilah keraguan dengan bijak

Memahami Sifat-Ragu-ragu

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI-online, 2017), kata  ragu diartikan “dalam keadaan tidak tetap hati (waktu mengambil keputusan, menentukan pilihan, dan sebagainya); bimbang” dan “sangsi (kurang percaya)”. Sementara itu kata “ragu-ragu” diartikan “bimbang;  kurang percaya”.

Secara psikologis, ragu-ragu mencerminkan aktivitas berpikir seseorang yang membutuhkan waktu relatif cukup lama dari yang seharusnya. Sehingga bagi peragu, membuat keputusan menjadi hal tersulit dalam hidupnya.

Orang dikategorikan ragu-ragu menulis manakala ia bimbang atau kurang percaya diri untuk menulis. Sifat peragu itu tidak dapat dilihat secara kasat mata, karena hal itu merupakan persoalan hatinya.

Akan tetapi perilaku orang yang peragu, tampak dari “bahasa tubuhnya” ketika merespon dinamika yang berlangsung. Ia akan bersikap menghindar dari persoalan dan mencari alasan, ketimbang mencari solusi.

Sifat ragu-ragu itu bisa menerpa siapa saja. Tidak mengenal usia, status, posisi jabatan, pangkat, pekerjaan dan profesi. Demikian juga dalam hal menulis.

Keraguan menulis di lingkungan peneliti ataupun pejabat fungsional lainnya tidak terjadi hanya pada calon peneliti atau calon penulis.

Peneliti senior sekalipun, terkadang masih dihinggapi sifat ragu-ragu ketika akan menuangkan gagasan dalam karya tulisnya. Itulah karakter ragu-ragu yang oleh banyak kalangan dikatakan sifat ragu-ragu manusiawi

Penyebab keraguan pada setiap orang tidak sama. Pada dasarnya faktor yang dapat memicu keraguan itu dibedakan ke dalam faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dominan mendorong orang bersifat ragu-ragu lebih disebabkan karena karakteristik individu, seperti faktor usia, sikap yang introvert (menutup diri), kurang gaul, merasa rendah diri, dan sejenisnya.

Sementara itu penyebab eksternal yang dominan menyebabkan keraguan antara lain faktor lingkungan yang kurang kondusif, dan tekanan pekerjaan yang menuntut kinerja optimal.

Dalam hal “membuat karya tulis”, keragu-raguan seseorang umumnya lebih banyak disebabkan karena kurang percaya diri, kehawatiran berlebihan karena takut dilecehkan, ditertawakan dan banyak alasan lainnya yang kadang-kadang irrasional.

Seseorang ragu-ragu ketika dihadapkan pada pilihan sulit yang tidak dibayangkan sebelumnya. Ia menjadi  ragu-ragu untuk memilih mana yang akan ditempuhnya.

Keraguan muncul karena terpaksa melakukan sesuatu yang tidak ingin dilakukannya. Mendapatkan petunjuk yang membingungkan untuk menyelesaikan tugas yang sama, juga menjadi sumber keraguan.

Sumber keraguan lainnya disebabkan antara lain belum paham cara mengerjakan sesuatu hal. Berikutnya, Ia ragu karena tidak memiliki kemampuan melakukan suatu pekerjaan, merasa belum berpengalaman mengerjakannya.

Keraguan itu lebih bersifat individualistik. Peran faktor internal lebih mendominasi penyebab timbulnya keraguan.  Artinya, keraguan itu merupakan keputusan hati. Karena itu untuk memahaminya juga harus dilakukan individual.

Keraguan itu tidak akan berakhir, bahkan setelah Anda berhasil membuat tulisan sekalipun. Refleksi keraguan itu timbul dalam bentuk memikirkan nasib tulisan yang sudah dibuat. Apakah naskah tulisan yang dibuat itu sudah tepat ?.

Yang jelas, akan merasa bimbang dan takut ditertawakan orang jika tulisan yang dibuatnya ternyata tidak tepat. Sumber keraguan lainnya, karena merasa banyak saingan. Saingan penulis dirasakan kalau berurusan dengan penerbit.

Tapi, jangan anggap itu sebagai masalah yaa…. apapun pekerjaanmu pasti punya tantangan dan hambatannya. Kalo gak mau punya pesaing, ya duduk diam saja ditempat. Daripada menyerah sebelum berperang, lebih baik siapkan senjata ampuhmu mulai dari sekarang

Ada lagi masalah yang dihadapi sehingga menyebabkan keraguan menulis, yaitu “buntu ide”. Kekosongan ide menyebabkan tidak dapat melanjutkan tulisan. Sarannya, agar tidak sampai badmood, perlu refreshing. Penulis juga butuh rekreasi. Imajinasi baru akan melahirkan ide-ide kreatif, sehingga dapat mengatasi kebuntuan menulis.

Jadikan keraguan sebagai pertanda bahwa Anda mulai masuk ke wilayah baru menuju keberhasilan. Bukan peringatan bakal terjadi hal buruk. Memikirkan kegagalan membuat karya tulis dapat mendorong Anda untuk melebih-lebihkan kesalahan kecil atau meminimalkan kemungkinan terjadinya sesuatu yang positif.

Bersikaplah lebih percaya diri, dan berfokuslah pada keinginan untuk membuat karya tulis yang baik. Memikirkan situasi yang positif dapat mengurangi keraguan Anda.Keraguan yang tidak beralasan cenderung bersumber dari distorsi kognitif (pikiran-pikiran yang berlebihan dan tidak rasional). Jika Anda menangkap ketidakrasionalan dalam pemikiran Anda, bisa jadi keraguan Anda memang tidak beralasan.

Semua orang pasti pernah gagal melakukan kegiatan. Jadikan kegagalan sebagai bahan pembelajaran, tidak memandangnya sebagai batu ganjalan. Definisikan kegagalan sebagai “pengalaman” sehingga tidak mengulang kesalahan yang sama menyebabkan kegagalan.

Bayangkan keberhasilan di masa lalu, sekecil apa pun itu. Lalu tingkatkan kepercayaan diri dan yakinlah Anda dapat mencapai sesuatu yang lebih dari keberhasilan itu. Sejarah keberhasilan bahkan dapat membantu Anda melawan ketakutan yang Anda rasakan saat ini

Dalam mengubah perspektif keraguan itu, hal yang juga penting dilakukan adalah menghindarkan diri dari keinginan sempurna, hingga terkesan perfeksionis. Keinginan menjadi sempurna akan  menggiring seseorang pada ketakutan gagal dan berbuat kesalahan. Bersikaplah realistis sehingga tidak ada orang yang kecewa terhadap sesuatu yang dihasilkan meskipun  tidak benar-benar sempurna.

Ambil langkah sederhana untuk mencapai tujuan. Tidak berfokus pada rumit dan besarnya pekerjaan, cobalah membagi-bagi dan menyelesaikan pekerjaan tersebut dalam beberapa bagian-bagian kecil. Dari pada mengkhawatirkan sisa pekerjaan yang belum terselesaikan, lebih baik menghargai dan mensyukuri keberhasilan yang sudah dialami.

Orang yang ragu-ragu dan hati-hati menulis, hasilnya sama saja yaitu sama-sama tidak menghasilkan tulisan apapun. Kalau demikian, kenapa ada saran untuk mengubah ragu-ragu menjadi hati-hati? Tentu usulan itu ada argumentasinya.

Untuk mengatasi sikap ragu-ragu, disarankan:

a. Perlu latihan berpikir cepat dan tepat.

b. Jangan terlalu detail mempertimbangkan sesuatu, yang penting tujuannya jelas, dan

c. Berani menanggung risikonya.

Seseorang menjadi  peragu, biasanya karena ia memiliki pola pikir idealis.Manakala yang akan dilakukan itu menurut penilaiannya tidak memenuhi kriteria idealis, ia ragu melakukanya. Oleh karena itu orang yang peragu ini lambat mengambil keputusan. Takut mengambil risiko.

Jadi, dipahami ragu-ragu adalah sikap seseorang yang terlalu banyak pertimbangan, kegamangan, takut salah, takut gagal, terlalu hati-hati sehingga pengambilan keputusannya menjadi lambat. Ciri pokok peragu yaitu terlalu lama mengambil keputusan. Wilayah logikanya abu-abu (tidak jelas maunya apa). Sikap ragu-ragu itu dicirikan dari keputusannya multitafsir.

Setelah membaca tulisan ini, apakah Anda masih ragu-ragu?  Mudah2an tulisan ini menjadi dorongan untuk  segera berbuat —-menulis.

Leave a Reply