Memacu Motivasi Diri dan Menguatkan Tekad Menulis

Apakah Anda merasa malas menulis? Hati-hatilah, malas menulis adalah indikasi tidak memiliki motivasi.

Tekad untuk menulis lemah. Padahal, dewasa ini untuk kalangan fungsional utamanya menulis itu menjadi landasan kinerja. Jadi jika tidak mau menulis, Anda perlu berfikir ulang, apakah jabatan fungsional yang disandang saat ini masih tepat dilanjutkan?

Mari kita simak pendapat pakar tentang motivasi diri ini.

Ada sederet penulis yang bisa dijadikan acuan, antara lain: Edy Zaqeus (2012)  seorang penulis Buku Best Seller; Bambang Trim (2012) penulis Apa dan Bagaimana Menerbitkan Buku; Kuncoro M., (2009) dengan bukunya Mahir Menulis: Kiat Jitu Menulis Artikel Opini, Kolom dan Resensi Buku, serta De Porter & Hernacki (2002) penulis buku Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan.

Mengherankan, orang-orang sibuk seperti Hermawan Kartajaya, Renald Kasali, atau Aa Gym, masih mampu menulis buku-buku bagus dan disukai pembaca.

Kalau demikian, kesibukan bukan lagi menjadi penghalang utama bagi para penulis best seller tersebut.

Apapun profesi Anda: tidak menghalangi seseorang untuk menulis. Selalu saja ada sisi-sisi kemanusiaan atau hal unik lainnya yang bisa dibagikan kepada orang lain. Buku adalah jembatan untuk berbagi secara lebih utuh. Itulah yang sudah ditunjukkan oleh contoh-contoh mengagumkan di atas.

Untuk mewujudkan impian membuat karya tulis, pertama-tama kita harus menyingkirkan aral mental berupa anggapan bahwa menulis itu sulit. Singkirkan pula aral mental bahwa kita butuh bakat khusus untuk menulis. Hilangkan anggapan bahwa ide bagus itu sulit ditemukan.

Berikut ini empat tips menulis yang bermanfaat dari penulis buku best seller, Edy Zaqeus (2012):

  • Yakinkan diri, asal tahu cara dan tekniknya yang cocok, menulis karya tulistidaklah sesulit yang dibayangkan.
  • Yakinkan diri, semua orang pasti memiliki bahan berupa gagasan, dan keahlian yang layak untuk ditulis menjadi karya tulis.
  • Miliki motivasiyang tinggi untuk mewujudkan karya tulis yang anda impi-impikan.
  • Jangan puas hanya menulis karya tulis, tapi sejak awal miliki hasrat 100 persen untuk menghasilkan jurnal.

Motivasi itu penting !.

Tanri Abeng, seorang manajer profesional dalam bukunya “Dari meja Tanri Abeng: Gagasan, Wawasan, Terapan dan Renungan” yang diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan tahun 1997, mengemukakan: “Mengerjakan sesuatu pekerjaan yang tidak jelas motivasinya akan menjadi beban, bahkan menimbulkan stres. Jika motivasinya jelas,  ia  akan mengerjakannya sepenuh  hati, tanpa beban”.

Motivasi atau dorongan dalam mengerjakan sesuatu menjadi faktor kunci. Tentu motivasi itu ada hubungannya dengan manfaat yang dijanjikan dari apa yang dikerjakan.Kondisi seperti itu berlaku juga dengan materi yang kita diskusikan pada buku ini, yakni: menulis. Artinya, gairah untuk menulis akan muncul manakala tahu manfaat yang akan diperoleh dari menulis itu.

Untuk membangun motivasi menulis,  cobalah jawab dengan jujur pertanyaan ini:

Untuk apa aku menulis, dan apa manfaat yang akan diperolah dari menulis itu bagiku”.

Apa Manfaat Menulis BagiKu”

Istilah AMBAK itu merupakan salah satu teknik yang  dapat digunakan untuk memotivasi diri. Intinya, segala sesuatu yang ingin Anda kerjakan haruslah menjanjikan manfaat bagi Anda. Kalau teori itu diterapkan untuk memotivasi diri agar mau menulis, maka: cobalah tetapkan tujuan kita menulis, dan manfaat apa yang akan diperoleh dari menulis itu.

Baiklah, … untuk mendapatkan gambaran tentang manfaat menulis seperti yang didiskusikan di atas, berikut ini dipaparkan beberapa manfaat menulis. Marilah kita bedah satu persatu manfaat menulis tersebut. Betulkah menulis mempunyai manfaat seperti itu?

Apa anda seorang penulis yang malas? Mungkin tidak… tapi banyak hal lain yang membuat anda sibuk dan mengabaikan dunia penulisan anda. Atau, barangkali dunia penulisan hanya menjadi prioritas anda yang nomor sekian.

Kalau jawaban anda “ya”, saya berani bertaruh anda tidak akan pernah menerbitkan satu karya tulis pun. Anda mesti paham, tidak ada kesuksesan tanpa prioritas.

Jadi, untuk menjadi sukses menulis, anda harus serius dan menjadikannya penting! Namun juga bukan berarti anda harus menghabiskan 24 jam hidup anda untuk mengurusi dunia penulisan ini (meski tidak sedikit penulis profesional yang bahkan menghabiskan waktunya lebih dari yang seharusnya).

Setelah motivasi untuk menulis sudah terbentuk dalam diri dengan bulat yang diperlukan berikutnya adalah menguatkan tekad menulis.

Psikolog memandang tekad itu sebagai “sumber daya terbatas“. Selain kecerdasan, tekad kuat adalah salah satu sifat yang paling penting untuk meraih kesuksesan dalam menulis. Pengalaman saya meningkatkan tekad ini dilakukan dengan cara:

Berhenti meratapi kesalahan.

Cara tersebut saya lakukan setelah membaca Journal of General Psychology. Di dalam majalah tersebut ada uraian yang mengupas perilaku manusia. Intinya:

jika Anda menemukan diri Anda melanggar sebuah niat dalam arti membuat kesalahan, jangan salahkan diri sendiri. Pandanglah kejadian berbuat salah itu sebagai suatu peristiwa yang terjadi hanya sesaat, dan bersiaplah untuk melawannya”.

Luruskan niat, Kuatkan tekad, Lakukan yang terbaik

Menulis bagi pejabat fungsional utamanya peneliti tidak lagi dipandang sebagai sarana komunikasi biasa, tetapi ukuran kompetensi jabatan fungsional peneliti.

Sejak menyatakan ikrar sebagai peneliti, harus mulai mengasah untuk mampu menulis. Keragu-raguan yang menjadi penyakit bagi penulis harus mampu di dobrak, sehingga terhindar dari kebuntuan menulis.

Lakukan dan Segera Bertindak

Setelah kita menguatkan niat dan memiliki tekad yang kuat, jangan di nanti-nanti. Segeralah bertindak memulai. Tidak ada artinya kita berikrar dan menguatkan niat untuk menulis, tetapi tidak segera melakukannya.

Tanamkan tekad kuat untuk menjadi penulis sukses dengan cara mengubah mind set (pola pikir)

“Berani mencoba, dan mulai bertindak” merupakan kunci untuk menjadi menulis produktif. Tidak ada artinya kita sudah banyak membaca, mengumpulkan referensi dan memiliki ide bagus, tetapi tidak mulai bertindak apa-apa.

Belajar terus sampai “hatam” tetapi tidak dipraktekkan: ..No Way ..! “ Bulshit”.

Harus berani mencoba !.

Tindakan lain yang ada kaitan dengan keharusan bertindak itu adalah “berhenti membuat alasan”,  berhentilah membuat alasan ! Jangan alasan, alasan, dan alasan lagi …..Himbauan untuk berhenti membuat alasan itu tentu ada memiliki argumentasi yang rasional. Yang menarik himbauan itu selalu dipasangkan dalam ulasan terkait motivasi. Ungkapan tersebut seringkali dijadikan pelengkap dalam motivasi untuk melakukan kegiatan, termasuk kegiatan menulis. Tentu ada alasan kuat mengapa muncul himbauan tersebut.

Setiap kali seseorang jika ditanya:

  • Mengapa anda belum melakukan …? ,
  • Mengapa kegiatan Anda belum jalankan?, dan
  • Berbagai pertanyaan lain yang jawabannya merupakan sesuatu yang selalu Anda tunda

Pasti kebanyakan dari kita selalu memberi alasan, yang sebenarnya bisa kita lakukan jika kita mau.

Hanya saja kita tidak mau mengakui hal itu. Alhasil keluar banyak alasan yang dikemukakan, yang justru itu akan menunjukan kelemahan anda. Orang yang cenderung sering menunda sesuatu hal sudah terbiasa dan terlatih membuat alasan, jarang sekali orang tersebut mau mengakui bahwa dia malas, belum mau ataupun tidak bisa melakukan hal itu.

Memang semua itu tergantung kebiasaan. Jika kita terbiasa menunda suatu pekerjaan, biasanya kita sudah mempersiapkan alasan tertentu jika nanti kita ditanya. Padahal kita tahu itu tidak baik, hanya saja kita malas untuk memperbaiki kebiasaan buruk.

Berikut ini saya punya beberapa pembelajaran untuk menghilangkan kebiasaan memberi alasan. Pembelajaran ini saya peroleh dari hasil gogling dan juga informasi dari sejawat.

Pertama, Jangan menunda pekerjaan yang seharusnya kita kerjakan.Kebiasaan menunda pekerjaan dapat membuat kita terbiasa dengan alasan. Jadi agar kita tidak disebut  sebagai seorang yg hanya bicara tanpa bertidak, lakukan pekerjaan tanpa menundanya.

Kedua, buang kebiasaan malas. Malas, pasti anda tidak asing dengan kata itu. Tentu saja, karena pada kondisi tertentu rasa malas sering kali timbul, entah karena lelah, atau memang tidak mau melakukan sesuatu. Hal itu bisa menjadi kebiasaan jika kita terus melakukannya. Alhasil kita jadi sering menunda pekerjaan yang seharusnya kita kerjakan. Timbullah alasan saat kita ditanya tentang pekerjaan kita.

Buang jauh-jauh kebiasaan malas karena hal itu akan menghambat kesuksesan.

Hayati ungkapan berikut:

Orang sukses mencari solusi… orang gagal mencari mencari alasan

Orang SUKSES selalu mencari JALAN. Orang GAGAL selalu mencari ALASAN, versinya sih mungkin berbeda-beda tapi ujung-ujungnya sih sama saja ALASAN.

Ingat, ALASAN itu hanyalah untuk ORANG LEMAH.

ALASAN itu hanyalah untuk orang yang tidak bisa MENERIMA REALITA. Orang GAGAL akan selalu MENYALAHKAN segalanya.

KESUKSESAN KAMU adalah TANGGUNG JAWAB KAMU,

KEGAGALAN KAMU adalah TANGGUNG JAWAB KAMU,

jadi hari ini buatlah TEKAD dan PUTUSKAN,

tidak ada lagi ALASAN, tidak ada lagi KERAGUAN, tidak ada lagi PENYESALAN. Apapun yang terjadi BERJANJILAH, saya akan selalu CARI JALAN.

Karena HIDUP SAYA adalah TANGGUNG JAWAB SAYA

Keraguan sering membuat kita merasionalisasi situasi agar sesuai dengan keadaan emosional kita. Kita mungkin takut gagal, takut terlihat buruk, dan sebagainya. Dengan alasan itu semua, kita menjadi pandai membuat banyak alasan.

Alasan dimaksud adalah pembenaran yang dibuat untuk mendukung alasan tidak menulis. Menjustifikasi diri sendiri untuk tidak menulis dengan alasan yang dicari-cari, hakekatnya adalah melemahkan potensi diri. Jangankan salahkan diri sendiri jika akhirnya Anda betul-betul tidak bisa menulis, karena Anda pandai berargumentasi membuat pembenaran tidak menulis.

Steven Pressfield dalam bukunya, Do The Work! Overcome Resistance and Get Out Of Your Own Way, mengemukakan  “Jika kita memberikan begitu banyak nanosecond, otak akan mulai memproduksi alasan, mencari alibi, mencari pembenaran, dan sejuta alasan lainnya tentang mengapa kita tidak bisa/tidak boleh/tidak akan melakukan apa yang kita tahu bisa kita lakukan.”

Setelah membaca tulisan ini, mudah2an Anda terdorong untuk memacu diri dan menguatkan tekad untuk menulis.

Bacalah dengan penuh penghayatan !!

Leave a Reply