Berguru Pada Empu Kata-kata: Naning Pranoto

Bacaan “Wajib” Bagi Calon Penulis

Buku itu terbit Desember 2015. Artinya sudah sekitar enam tahun dari saat ini. Buku yang diterbitkan oleh penerbit Kosa Kata Kita, Jakarta itu memuat hasil wawancara Naning Pranoto terhadap 14 orang sastrawan/budayawan/penulis yang tersohor pada jamannya.

Nama penulis yang diwawancari Naning Pranoto dalam buku tersebut adalah: Ahmad Tohari, Remy Sylado, Free Hearty, Suminto A.Sayuti, Maman S.Mahayana, Dr. Handrawan Nadesul, Siti Zainon Ismail, Dewi Anggraeni, Helvy Tiana Rosa, Zhaenal Fanani, Afifah Afra, Bambang Kariyawan Ys, Mashdar Zainal, Ahmad Fuadi.

Naning Pranoto sendiri sebagai penulis dan pelatih penulisan sastra dan novel merupakan perintis Creative Writing dan Sastra Hijau, pertama kali saya jumpai namanya tanpa sengaja ketika berselancar tentang dunia penulis. Beliau mengelola www.rayakultura.net.

Tokoh-tokoh sastra yang diwawancari Naning Pranoto itu bagi generasi milenial mungkin banyak yang belum mengetahuinya, terlebih bagi generasi yang bukan penulis.

Bagi saya sendiri, hanya beberapa nama saja dari tokoh yang diwawancari Naning Pranoto tersebut saya kenal namanya.

Setiap ada kesempatan, buku yang sudah mulai menguning dan kertasnya sudah mulai menghitam itu selalu menjadi bacaan yang mengasyikan. Gaya bahasa Naning Pranoto yang menyampaikan hasil wawancara dalam buku itu enak di baca.

Meskipun sering baca, tetap saja menarik membaca buku itu. Banyak inspirasi dan juga motivasi yang sangat berharga dan penting yang disampaikan para penulis kawakan tersebut.

Kiranya tidaklah berlebihan kalau saya menyebut buku ini menjadi bacaan “wajib” bagi Anda siapapun yang memiliki minat mau menjadi penulis.

Tidak hanya motivasi yang menginspirasi dari buku itu, tetapi juga tentang pengalamannya menjadi penulis.

Sejak kapan mereka tertarik menulis, faktor apa yang mendorong dan memilih profesi “menulis”, apa yang pertama ditulis, lalu berapa judul yang sudah ditulis termasuk saran-saran penting bagi calon penulis ada dalam buku ini.

Intinya buku itu berisi “daging” semua. Sayangnya, buku itu mungkin tidak diterbitkan lagi dan di toko buku pun mungkin tidak akan dijumpai lagi karena relatif sudah lama.

“Empu Kata-Kata”. Istilah itu yang pertama menjadi daya tarik untuk memiliki buku itu. Dalam bahasa lain empu itu mengandung arti seorang pakar, sedangkan kata-kata dapat dianalogikan tulisan. Tulisan kan kumpulan kata-kata.

Jadi buku “Berguru pada empu kata-kata” itu mengandung makna semantik “menimba ilmu pada pakar penulis”.

Makanya buku itu menjadi penting untuk di baca, jika Anda ingin memperkaya pengetahuan tentang penulisan.

Pada kesempatan berikut, saya akan coba menyampaikan pembelajaran yang dapat dipetik dari hasil membaca buku tersebut.

Leave a Reply